|11| ~ 13 Tahun Perang Saudara

April 11, 2012

13 Tahun Perang Saudara[30]

Dalam sejarah dunia, juga di dalam sejarah Indonesia, “perang saudara” bukanlah suatu hal yang aneh. Hal itu termasuk salah satu peristiwa yang bisa terjadi di setiap masa dan dalam lingkungan setiap bangsa manapun.

Adapun sebab-musababnya amat beragam sekali. Adakalanya karena tahta atau harta dan kemegahan dunia, dalam arti dahriyah (materialisme). Sebaliknya, di abad ke-20 ini, acapkali timbul perang saudara karena perbedaan ideologi (aqidah), perbedaan citacita, perbedaan keyakinan dan juga perbedaan agama. Misalnya; di China, Korea-Utara dan Korea-Selatan, Asia-Barat, dll.

Apa yang kita maksudkan dalam tulisan ini, ialah perang saudara antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI pasca KMB) dengan Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia (NKA, NII). Kita katakan perang saudara, karena mereka bersaudara dalam jalinan bangsa dan bahasa yang sama (Indonesia), bersaudara dalam revolusi nasional yang sama. Tetapi mereka berbeda dalam ideologi bernegara.

Sehingga perang tersebut bukan hanya sekedar perang argumentasi (hujjah vs hujjah), tapi telah melibatkan perang dalam makna senjata, jiwa, dan harta. Dan itu berjalan tidak kurang dari 13 tahun lamanya, baik peperangan di pulau Jawa, maupun di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara. Dapat dikatakan perang di seluruh Indonesia (1949-1962/’63).

Menurut catatan dari pihak NII,[31] Negara Kesatuan RI (NKRI) mempermaklumkan perang secara resmi pada 16-17 Agustus 1953, yaitu melalui pidato Presiden Soekarno dan juga pidato Ali Sostroamijoyo, selaku Perdana Menteri Kabinet Ali-Wongso pada 25 Agustus 1953. Meski demikian, pihak NKRI tidak menyebutkan dalam permaklumannya sebagai Negara Islam Indonesia (NII). Mereka hanya menyebut “gerakan” ini sebagai “Gerembolan DI/TII Kartosuwiryo”. Untuk Sulawesi-Selatan dan Sumatera-Utara, Aceh dengan sebutan DI/TII Kahar Muzakkar dan DI/TII Daud Beureuh.

Sikap menghindar NKRI untuk menyebut “gerakan” ini sebagai Negara Islam Indonesia kita dapat maklum, sebagai usaha untuk tidak mengakui keberadaan Negara Islam tersebut secara hukum sebagai sebuah negara. Akan tetapi menyebut gerakan Darul-Islam/ Tentara Islam Indonesia ini dengan singkatan DI/TII memerangkap NKRI dalam istilah ilmu fiqh (Perundangan Islam) yang berakibat negatif (fatal).

Dengan pengakuan NKRI bahwa “pemberontakan” itu gerakan Darul-Islam/Tentara Islam Indonesia, menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Darul-Kuffar (Negara Kafir) dan medan pertempuran–baik di gunung, lurah, kampung dan kota–menjadi Darul-Harbi (kawasan perang). Dan hal ini justru menambah semangat juang para pembela Negara Islam (NII) karena mendapat pembenaran (legitimasi) menurut fakta hukum fiqh (Perundangan-Islam) bahwa mereka diperangi oleh Negara Kafir.

Bukan perkara mustahil, negara kafir mempunyai tentara Muslim. Contohnya dapat kita jumpai dalam Sirah an-Nabawiyah, pada perang Badar. Dan anehnya dari peperangan ini tidak ada usaha yang dilakukan untuk perdamaian ataupun gencatan senjata. Seakan-akan kedua belah pihak berusaha untuk menghancur-binasakan satu sama lainnya.

Tidak ada dokumen resmi yang pernah kita temukan sebagai usaha damai yang dirintis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebagai usaha yang mengarah ke arah perdamaian atau gencatan senjata (ease-fire). Hanya saja terdapat nota-rahasia[32] (1950-1951) dari Imam S.M. Kartosuwiryo sebanyak dua kali berupa surat kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Berisi ajakan “kerjasama” dan pengakuan kedaulatan Negara masing-masing (NKRI dan NII) untuk memerangi musuh bersama, yaitu komunis.

Sayangnya nota-rahasia itu tidak ditanggapi NKRI dengan sewajarnya. Artinya dua nota-rahasia tersebut tidak pernah ditanggapi secara serius. Bahkan tidak pernah disebut-sebut keberadaannya. Andaikata direspon oleh NKRI, tentu peperangan itu dapat berakhir secara cepat. Tentunya korban jiwa, harta rakyat Indonesia dapat dihindari, sekaligus “goresan luka” Ummat Islam bangsa Indonesia dapat terobati. Atau mungkin ini takdir yang telah menjadi suratan perjalanan hidup bangsa ini. Wallahu a’lam bis shawab.

Perkara yang sama, dimana NKRI tidak memikirkan kesan buruk atas bangsa ini, bagi ummat Islam Indonesia khususnya dan ummat Islam dunia umumnya, adalah terlalu isti’jal (terburu-buru) menjatuhkan hukuman eksekusi (hukum tembak) kepada Imam NII (Agustus 1962), yang tertangkap pada 4 Juni 1962. Perbuatan itu telah mengangkat beliau menjadi “Pahlawan” atau asy-Syahid di mata dunia-Islam.[33] Dan sekaligus merupakan usaha pembenaran akan perjuangan bernegaranya.

Dari kutipan di bawah ini[34] kita akan dapat gambaran jelas dari 13 tahun perang saudara tersebut:

Bahwa di Indonesia, sejak 3 tahun ini, berdirilah dua Negara, yang berbedaan hukum dan pendiriannya, berlainan sikap dan haluan politiknya, bertentangan maksud dan tujuannya, tegasnya: berselisih, hampir dalam tiap-tiap hal, mulai dasar dan pokok hingga sampai ke cabang dan rantingnya.

Bahwa daerahnya adalah satu dan bersamaan pula, yaitu: Indonesia.

Bahwa rakyat-penduduknya adalah satu dan bersamaan pula, ialah: rakyat Indonesia.

Bahwa tiada batas yang tertentu; daerah, tanah air, rimba, bukit, laut dll, yang dapat membedakan dan memisahkan kedua Negara itu, sehingga batas semacam “garis demarkasi” tidak ada dan tidak mungkin ada.

Andaikan kita tarik persamaan antara NKRI dan NKA/NII dalam kisah al-Quran al-Karim, seperti perumpamaan Nabi Yusuf AS dengan saudara-saudaranya yang termaktub dalam Surah Yusuf. Mari kita salin do’a yang diajarkan Allah Azza wa Jalla:

Berdoalah (Hai Muhammad)! Duhai Allah Yang Mempunyai Kerajaan. Engkau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha-Kuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa batas. (S.Q Ali Imran 3:26-27).

Demikianlah, perang yang lebih spesifiknya antara Tentara Nasional Indonesia (TNI-RI) dengan Tentara Islam Indonesia (TII/NII) dapat dikatakan telah dimenangkan oleh TNI-RI pada 4 Juni 1962, dengan tertangkapnya Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara Islam Indonesia (PTAPNII), S.M. Kartosuworyo.

Setelah tahun itu, seluruh jajaran Angkatan Perang Negara Islam Indonesia (APNII) dilucuti, dan dikembalikan ke kampung halaman masing-masing, sebagai usaha mengisolasi mereka dari aktifitas perjuangannya.

Penutup

Dalam doktrin Agama Samawi (bersumber wahyu): Yahudi, Nasrani, Islam, dan beberapa agama lainnya,[35] ibadah dan pemerintahan merupakan kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi atau dipisahkan. Usaha memisahkannya (sekuler) antara ibadah dan pemerintahan merupakan perbuatan sia-sia atau “penipuan”. Sebab bagi penganutnya makna ibadah akan hilang jika tanpa adanya pemerintahan sendiri.

Oleh sebab itu, dapat dimengerti bagaimana bangsa Israel berusaha gigih mewujudkan pemerintahan sendiri. Begitu juga ummat Nasrani, walaupun mereka mencoba berdalih, pemerintahan bukan termasuk bagian dari doktrin ajarannya, akan tetapi “Kerajaan Tuhan di bumi” perlu adanya, misalnya Paus (Pope) di Vatikan yang dapat mewakili pemerintahan (Nashara) lain di dunia. Di masa kegemilangannya, Paus berkuasa melantik dan menurunkan Rajaraja Eropa. Begitu juga dengan Islam, terwujudnya pemerintahan Islam (Khilafah) merupakan keniscayaan bagi ummatnya.

Perlu dipahami, ideologi ad-Daulah al-Islamiyah bukan hanya milik ummat Islam bangsa Indonesia semata. Bahkan ideologi ini kepunyaan ummat Islam dunia, tidak terikat dengan bangsa dimana mereka dilahirkan. Artinya setiap Muslim yakin akan penting dan perlunya.

Semua orang juga tahu, usaha untuk memerangi ideologi apapun tidak akan mampu untuk menghancurkannya, tetapi hanya memperlambat proses perkembangannya. Lambat atau cepat hanya tergantung kepada Yang Maha Pemilik Waktu, Allah Azza wa Jalla.

Dalam perkembangan belakangan ini kita saksikan konsep “al-Khilafah” lebih populer dikumandangkan. Nampaknya konsep ini, merupakan nama lain dari konsep ad-Daulah al-Islamiyyah. Yaitu perjuangan untuk menegakkan kerajaan Allah Azza wa Jalla di muka bumi, supaya dapat melaksanakan syari’ah dengan sempurna.

Terhitung dari tahun 1945 hingga sekarang (2010) telah terentang masa 65 tahun. Telah banyak perubahan yang berlangsung di Indonesia. Hampir semua pelaku “pejuang” kemerdekaan telah kembali ke alam baka. Dapat dikatakan tidak ada seorang pun tokoh pelaku sejarah tersebut yang masih hidup. Akan tetapi ideologi yang mereka tinggalkan masih hidup dan dianut oleh suatu generasi ke generasi berikutnya hingga hari ini.

Tiga ideologi yang kita bahas di atas, merupakan bentuk ekstrim (murni) yang mungkin agak sukar kita temui sekarang. Namun gabungan dari dua atau kombinasi dari ketiga paham tersebut masih jelas tampak dalam kehidupan masyarakat, begitu juga dalam berorganisasi atau berpartai. Misalnya paham Nasionalme Islam (NI) dan Nasionalisme/Sosialis Komunis (NK) atau Islamisme Nasionalis (IN) dan Islamisme/Sosialis Komunis (IK) atau Komunisme/ Sosialis Nasionalis (KN) dan Komunisme/Sosialis Islam (KI). Dan tidak mustahil menjadi gabungan ketiga-tiganya sekaligus, menjadi paham: NIK, NKI, atau INK, IKN atau KIN, KNI.

Seperti kita sadari bahwa sejarah bukanlah upaya untuk disesali maupun ditangisi. Perjalanan sejarah merupakan bukti nyata dari apa yang orang-orang terdahulu telah lakukan. Berbuatlah, pasti Allah, Rasul, dan orang-orang beriman akan menjadi saksi dari apa yang kita lakukan.

“Itu adalah ummat yang telah lalu (dalam sejarah), bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagi kamu apa yang kamu usahakan. Dan kamu sekali-kali tidak akan dituntut pertanggungan-jawab atas apa yang mereka lakukan.” (Q.S. al-Baqarah ,2:134 dan 141).

______________________________________________________________________________

30. Ada yang mengira 15 tahun, lihat Kewibawaan Tradisional, Islam, dan Pemberontakan. Oleh Karl D. Jackson, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1990.

31. Statemen Pemerintah Negara Islam Indonesia, nomor VI/7 hal. 207, dalam kumpulan PDB buku Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia, Darul-Falah, Jakarta, 1999.

32. Ibid, hal 421-420.

33. Dosen di University Ummul Qura’ Makkah dalam bidang pergerakan al-Harakah al-Islamiyah sedunia, menyebut S.M. Kartosuwiryo sebagai asy-Syahid.

34. Statemen Pemerintah NII nomor V/7 hal. 380-381 dalam buku Al-Chaidar. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia, Darul-Falah,vJakarta, 1999.

35. Dalam agama Hindu dan Shinto, berkaitan dengan pemerintahan (kerajaan), mereka mempercayai raja sebagai “titisan” Dewa atau anak Dewa. Sedangkan dalam ajaran Budha, raja merupakan “Budha yang hidup”, mengatur bumi/alam semesta.

 

:: INDONESIA: BANGSA, DAN IDEOLOGI… part 11

sumber: http://maramediapublishing.wordpress.com/2010/03/30/indonesia-bangsa-dan-ideologi/

Satu Tanggapan to “|11| ~ 13 Tahun Perang Saudara”

  1. Sang Tilden Says:

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. WordPress Seo Plugin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: