|3| ~ Nasionalisme

April 11, 2012

ImageTahun 1905, adalah tahun kemenangan Jepang atas Rusia dan menjadi simbol tahun kemenangan Timur atas Barat. Tahun ini merupakan pembuka halaman baru dalam sejarah dunia, khususnya bagi benua Asia. Berita kemenangan tersebut terdengar dan berkumandang di seluruh Asia, sebagai canang (momentum) pertama, yang membangkitkan bangsa Asia- juga di nusantara Indonesia- dari tidur-panjang selama berabad-abad.

Kepercayaan dan keyakinan lama yang salah dan keliru berserta sifat mental dan tabiat yang merasa hina dan rendah diri atau minder (inferiority complex), beralih menjadi sifat mental yang sebaliknya, yaitu rasa percaya dan yakin diri[6] Ia bergerak secara perlahan, berangsur-angsur tapi pasti, sejalan dengan terkuaknya suasana gelap-gulita, yang amat tebal menyelimuti dan menyelubungi benua Asia pada saat itu.

Sementara itu di Tiongkok, Dr. Sun Yat Sen mulai menunjukkan  minatnya yang besar untuk melepaskan bangsa Tiongkok (China) dari kungkungan dan cengkraman imprialisme serta kapitalisme, yang dengan kuat serta megah menancapkan kekuatan dan kekuasaannya atas hampir setiap penjuru kawasan Asia. Sedangkan di Indonesia, kaum terpelajar dan golongan menengah menampakkan kesadarannya atas nasib bangsa dan tanah airnya pada tahapan pertama, yaitu dengan mendirikan suatu perhimpunan kebangsaan, bernama: “Tri Koro Dharmo” (tiga tujuan yang utama) 1908.

Dari tahun ke tahun, benih pertama itu hidup dengan subur di tengah masyarakat menengah ketika itu. Kemudian perhimpunan tersebut berubah corak dan ragamnya menjadi “Budi Utomo”.

Sekitar 22 tahun kemudian tumbuh dan berkembang aliran kebangsaan muda, yang jauh lebih revolusioner, lebih kreatif, lebih realistis dan progresif bahkan kadang-kadang agresif. Yaitu lahirnya Partai Nasional Indonesia (PNI) dibawah kepemimpinan para pemimpin muda yang berapi-api semangatnya. Diantara pemimpin kebangsaan muda ini adalah: Ir Soekarno, Drs. Mohd Hatta, dan Syahrir, yang memegang peranan penting di dalamnya.

Pada akhir tahun 1927 berkembang beberapa perhimpunan politik, diantaranya: PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) dibawah pimpinan Haji Omar Syarif (HOS) Cokroaminoto dan H. Agus Salim; Studi-club Surabaya, dibawah pimpinan Dr. Sutomo; Studi-club Bandung; Kaum Betawi, dibawah pimpinan Muhd. Husni Thamrin dll. Dari beberapa perhimpunan politik tersebut berdirilah satu lembaga politik dengan nama: Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia, atau PPPKI.

Dengan pesat dan cepat, laksana garuda terbang di angkasa,PNI bergerak mendahului perhimpunan-perhimpunan lainnya yang lebih tua, dan menjadi “pelopor” serta pendorong semangat kesadaran masyarakat nasional Indonesia.

Dengan cerdiknya, pemerintah penjajah Belanda pada waktu itu “membiarkan” letupan jiwa yang menyala-nyala tersebut, sehingga menjadi sebuah gerakan yang menjadi alasan bagi Belanda untuk menangkap, menahan, dan menghukum serta membuang para pemimpin nasional muda saat itu, yaitu Ir. Soekarno, dan Drs.Mohd Hatta, beserta kawan-kawannya. Maka selesailah sudah riwayat pertama dari perjalanan aliran kebangsaan muda itu, yang– untuk memudahkan ingatan kita – diberi nama: PNI I (PNI Periode Pertama).

Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita lihat dulu isi dan inti dari gerakan kebangsaan muda itu, bagaimana ia dapat tumbuh dan berkembang dengan menakjubkan.

Dalam pertemuan-pertemuan umum selalu didengung-dengungkan slogan dari teori yang menarik perhatian dan mendarah daging di sanubari rakyat, yaitu teori tentang Marhainisme, atau dalam sebutan lain: Proletarisme–Kerakyatan (rakyat jelata).Slogan ini sangat sesuai dengan kondisi, semangat, cita-cita dan harapan rakyat jelata (proletar) pada masa itu.

Selain itu, dikumandangkan pula dengan lantang dan tegas: slogan dari teori Sosio-Demokrasi (Kerakyatan menuju Keadilan Sosial), yang hampir mirip dengan pemikiran Nazi-Jerman atau Sosio-Nasionalisme ciptaan Adolp Hitler, atau Fasisme Itali ala B.Mussolini.

Dapat kita gambarkan bahwa Marhainisme itu sebagai “chauvinisme” (nasionalisme sempit) dalam realisasi dan kristalisasinya, juga menunjukkan sifat “anti asing” (anti orang asing dan barang buatan asing). Dari pandangan ini timbullah aksi “ahimsa” atau perlawanan tidak bersenjata (leidelijk verzet) dan usaha “swadesi”  (mencukupkan keperluan sendiri, dengan usaha sendiri). Kedua pandangan ini adalah datang (diimport) dari India, yaitu dari pemikiran Mahatma Ghandi.

Walaupun nasionalisme sempit tersebut (chauvinisme) menimbulkan kebencian dan permusuhan kepada sesuatu yang berbau “asing”, tetapi dari pandangan ini muncul pemikiran yang memberikan jalan keluar lebih terang dan konkrit, yang bersifat inter-asiatisme, biasa disebut: Pan-Asiatisme. Slogan dan semboyan yang sering diperdengarkan dalam hal ini ialah: persatuan antara Naga Barongsai China, lembu Nandi India, Banteng Indonesia dan Matahari Terbit Jepang (di masa pendudukan Jepang, dikatakan: “di bawah sinar Matahari Dai Nippon”). Pan-Asiatisme ini tampaknya dapat dibandingkan dengan Internationale ke-3, untuk kaum Komunis di benua Eropah-Barat.

Perlu juga diperhatikan tumbuhnya satu model ideologi baru, berupa ideologi campuran antara nasionalisme Indonesia (waktu itu: Jawa) dan sosial-demokrat Barat. Yaitu berupa sosial-demokrasi- Indonesia (Indische Sociaal Democratie), dalam tubuh partai “Indische Partij”. Partai ini merupakan perhimpunan assosiasi antara Timur dan Barat, di bawah pimpinan “Tiga Sejoli”: Dr. Cipto Mangunkusumo, Deuwes Dekker (Setiabudi) dan Suwardi Suryaninggrat (Ki Hajar Dewantoro). Aksi yang terutama, ialah: “Indie weerbaar” (pertahanan untuk Hindia).

Beberapa tahun kemudian, setelah suasana politik di Indonesia agak reda, sisa-sisa semangat dan aliran kebangsaan muda yang seperti telah mati atau pingsan (latent), bangun dan bangkit kembali. Kemudian muncul dalam bentuk pergerakan yang sifatnya lunak (moderat), dengan nama:

Partai Nasional Indonesia (biasa disebut: PNI II). Namanya sama dengan PNI terdahulu. Karena PNI ini dianggap adik dari PNI I (yang sebelumnya), maka PNI II ini pun berada dibawah “pimpinan tidak langsung” dari Ir. Soekarno yang pada masa itu masih dalam pembuangan.

Pendidikan Nasional Indonesia (PNI III). Juga berada di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh terdahulu, yaitu: Drs. Moh. Hatta, Syahrir, dll.

  1. PNI II dan III ini tidak dapat bergerak dan mencapai maksud serta tujuan seperti yang mereka cita citakan secara maksimal karena tidak mampu menghadapi tangan besi pemerintah jajahan Belanda yang menekan dan menindas.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942) dan pemerintah penjajah Belanda lari ke Australia, maka usaha pertama dan utama yang dijalankan tentara pendudukan Jepang, ialah membasmi partai-partai dan perhimpunan-perhimpunan politik, dengan corak dan warna aliran atau fahan apapun. Tidak terkecuali PNI II dan III. Semuanya “dikubur hidup-hidup”, di Hookookai, suatu tempat model “sangkar mas”, yang sudah direncanakan dan dipersiapkan terlebih dahulu oleh Jepang. Bagi kaum Muslimin disediakan tempat yang bernama “Masyumi” yang merupakan medan bakti ciptaan Jepang.

Saat itu nyanyian lagu Jepang terdengar meriah dan memikat hati. Membawa jiwa manusia ke satu arah yang salah dan palsu, yaitu: persembahan kepada manusia yang diper-tuhan-kan (Tenno Heika), dengan dasar Sintoisme dan Hakko Iciu (impian “Kemakmuran Asia Timur Raya”).

Pada masa itu pula Soekarno-Hatta dkk. mencapai puncak “kemasyhurannya”, terutama sekali setelah Soekarno menciptakan satu “ideologi” baru yang bernama “Pancasila”.[7] Yaitu suatu pemikiran berupa semacam “campuran masakan” yang terdiri dari sintoisme, hakko iciu, agama, dan nasionalisme. Dari sisi lain, di kalangan pemimpin Indonesia, yang masih tetap terkurung dalam “sangkar mas” itu, timbulah usaha untuk menentang atau menolak pendudukan Jepang. Mereka berusaha melepaskan rakyat dan bangsa Indonesia dari cengkeraman fasis Jepang. Dalam perkembangan selanjutnya usaha mereka ini menjadi cikal bakal bagi tumbuh-kembangnya gerakan yang amat besar dan dahsyat di zaman revolusi nasional, yang biasa disebut “gerakan bawah tanah”, gerakan gelap, atau gerakan subversif. Di antaranya seperti yang terjadi dalam peristiwa Singaparna, Cilegon, dan Kediri. Sungguhpun peristiwa-peristiwa (pemberontakan) tersebut merupakan usaha yang gagal, tetapi jasanya cukup besar dan berharga sebagai bagian dari rangkaian proses perjuangan sejarah Indonesia. Dapat dikatakan peristiwa itu sebagai titik awal dan garis pertama, yang menggambarkan minat dan hasrat bangsa Indonesia-–terutama ummat Islam—untuk melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan fasis Jepang.

__________________________________________

6. Rendah diri akibat tekanan penjajahan yang panjang, sehingga hilang kepercayaan dan jati-diri di kalangan kaum terjajah.

7 Dapat pula masuk catatan dalam sejarah kebangsaan Indonesia, bahwa Soekarno-Hatta cs, termasuk dalam golongan “pemimpin-pemimpin terbesar dan tertinggi” (top leaders). Ingat “istilah empat serangkai”, yakni Soekarno-
Hatta-Ki Hajar Dewantoro-KH Mas Mansur, yang diharapkan oleh kekuasaan Jepang, untuk men-jepang-kan Indonesia dan rakyat Indonesia.

 

:: INDONESIA: BANGSA, DAN IDEOLOGI… part 3

sumber: http://maramediapublishing.wordpress.com/2010/03/30/indonesia-bangsa-dan-ideologi/

____________________________________________________________
:: INDONESIA: BANGSA, DAN IDEOLOGI part 1 sampai 11
Selamat menikmati…………..

1~ Terminologi Indonesia
2~ Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme
3~ Nasionalisme
4~ Islamisme
5~ Komunisme
6~ Tiga Negara di Republik Indonesia
7~ Republik Sovyet (Komunis) Indonesia
8~ Negara Islam Indonesia (NII)
9~ Republik Indonesia Serikat (RIS)
10~ Penerus Revolusi 1945
11~ 13 Tahun Perang Saudara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: