|1| Terminologi “Indonesia”

April 11, 2012

Indonesia

ImagePada zaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan mereka untuk Indonesia adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Di tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker\(1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk Indonesia yang tidak mengandung unsur kata “India”, yaitu dengan nama Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19, lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes, dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom, tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian Nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebut pulau-pulau diluar Jawa (Antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Dalam Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa.” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata Nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi Jawa-sentris itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Malayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi modern Nusantara itu. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia-Belanda. Sampai hari ini istilah Nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan kepulauan di Asia Tenggara.

Nama Indonesia dalam Jurnal Ilmiah[1]

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA),[2] dalam JIAEA itu, volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago”. Ia menggunakan nama “Indunesia”, lalu dengan merubah huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik, maka lahirlah istilah Indonesia. Saat itulah untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia, sebagaimana tertulis pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago”.

Selanjutnya Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya. Lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin, Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima jilid, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang mempopulerkan istilah “Indonesia”di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian.[3] Orang pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-burea”.

Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917) Sejalan dengan itu, kata inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Secara resminya tanggal 17 Agustus 1945 nama itu (Indonesia) menunjuk kepada:negara, bangsa, dan bahasa.[4]

____________________________

1. lihat Sejarah Nasional Indonesia V, hal. 290.

2. Dikelola James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dapat dilihat dalam Wikipedia, internet –Indonesia.

3. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

4. Lihat Sejarah Nasional Indonesia V hal 283.

 

:: INDONESIA: BANGSA, DAN IDEOLOGI… part 1

sumber: http://maramediapublishing.wordpress.com/2010/03/30/indonesia-bangsa-dan-ideologi/

____________________________________________________________
:: INDONESIA: BANGSA, DAN IDEOLOGI part 1 sampai 11
Selamat menikmati…………..

1~ Terminologi Indonesia
2~ Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme
3~ Nasionalisme
4~ Islamisme
5~ Komunisme
6~ Tiga Negara di Republik Indonesia
7~ Republik Sovyet (Komunis) Indonesia
8~ Negara Islam Indonesia (NII)
9~ Republik Indonesia Serikat (RIS)
10~ Penerus Revolusi 1945
11~ 13 Tahun Perang Saudara

Satu Tanggapan to “|1| Terminologi “Indonesia””

  1. anang fathurrohman Says:

    sadarlah wahai bangsa Indonesia yg mengaku beragama Islam, tanpa ditegakkannya DINNULLOH jangan harap negara ini sentosa apalagi rakyatnya sejahtera. hukum Tuhan sudah berani dilabrak apalagi aturan manusia…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: