Mohammad Roem, Pejuang Perunding

April 18, 2012

ImageSetelah Indonesia merdeka, kita memiliki nama-nama tokoh nasional yang dalam masa penjajahan masih belum begitu dikenal nama-nama mereka. Nama-nama tersebut ditemukan pada lembaga-lembaga negara tingkat pusat seperti di kabinet, di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan juga dalam partai politik. Kalau kita batasi dari kalangan Islam maka kita akan menemukan nama seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito adalah diantara nama-nama tersebut.

Mereka lahir dari dua organisasi Islam kalangan muda waktu itu yang berperan membina sikap dan keyakinan mereka sebagai muslim pejuang yang dididik di Jong Islamieten Bond (JIB) dan Studentent Islam Studie Club (SIS), perkumpulan mahasiswa untuk studi Islam.

JIB didirikan pertengahan tahun 1920-an, sedangkan SIS didirikan pada tahun 1930-an. H. Agus Salim, Mohammad Natsir, Mohammad Roem dan Kasman Singodimedjo adalah tokoh-tokoh di JIB, sementara Jusuf Wibisono dan Prawoto Mangkusasmito adalah tokoh-tokoh di SIS. Sekalipun Jusuf Wibisono pernah di JIB dan Kasman pernah di SIS.

Kedua organisasi ini dapat menghambat gagasan sekularisasi yang dicanangkan oleh pemerintahan Hindia Belanda melalui Snouck Hugronje karena mereka mempelajari Islam secara kritis sehingga basis keislaman mereka di JIB disamping sebagai pejuang kemerdekaan dapat terbangun dengan baik. Di JIB H. Agus Salim adalah merupakan tokoh pembangun karakter sehingga selain Mohammad Natsir, Mr. Mohammad Roem adalah anak kesayangan H. Agus Salim.
Salah satu yang menonjol dari Mohammad Roem adalah beliau memiliki kelebihan di dunia diplomasi, sehingga beliau digelari Pejuang Perunding. Beliau pernah tiga kali menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri didalam beberapa kabinet diawal kemerdekaan. Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dalam kabinet setelah Pemilihan Umum pertama tahun 1955 dan diera beliaulah disusun Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum ketika beliau menjabat Menteri Dalam Negeri bahkan dalam kabinet Natsir sebagai Perdana Menteri beliau memegang posisi Menteri Luar Negeri. Bahkan beliau lebih dikenal diluar negeri sebagai perunding.
 
Dalam dunia diplomasi beliau diberi kedudukan khusus sebagai diplomat. Orang Indonesia pertama yang cepat memperoleh sebutan sebagai diplomat atau politikus sesudah H. Agus Salim. Beliau adalah pengagum H. Agus Salim sekaligus murid. Mohammad Roem sendiri mengatakan bahwa dirinya banyak belajar dari ketokohan seorang H. Agus Salim.

Pada waktu perundingan Linggar Jati 14 Oktober 1946 yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir, beliau diikutkan sebagai anggota perunding, walaupun beliau merasa belum berpengalaman, tetapi oleh H. Agus Salim beliau didorong untuk ikut karena mengetahui potensi yang dimiliki. Ternyata beliau dengan gigih memperjuangkan pasal-pasal yang dianggap merugikan Republik. Komisi Jendral Belanda Prof. Schemerchorn, selaku Ketua di pihak Belanda melihat susunan delegasi Indonesia adalah suatu delegasi yang kuat. Beliau melihat Mohammad Roem sebagai seorang perunding yang bersemangat dan tidak mudah untuk dipatahkan sampai sidang beberapa kali harus ditangguhkan.

Serangan Mohammad Roem terhadap pasal-pasal yang merugikan Republik Indonesia menyebabkan Belanda mengancam akan menghentikan perundingan, karena kesal dengan Mohammad Roem. Perundingan yang alot tersebut akhirnya ditandatangani juga pada tanggal 25 Maret 1947.

Pihak Belanda menyatakan Prof. Schemerchorn, ketua delegasi Belanda dianggap tidak mampu menguntungkan Belanda. Kecewa dengan perundingan tersebut pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan aksi militer, melanggar perjanjian Linggar Jati dan hampir seluruh wilayah Republik mereka kuasai. Serangan ini dipimpin oleh Jendral Van Mook dan mereka berdalih bahwa ini adalah tindakan aksi ”polisionil”. Akhirnya atas prakarsa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendengar pelanggaran dilakukan oleh Belanda, meminta Indonesia kembali ke meja perundingan, dan Sutan Sjahrir diberi kesempatan menyampaikan pidato di PBB.

Diangkatnya masalah Indonesia dan Belanda oleh PBB adalah hasil dari sebuah diplomasi yang dilakukan oleh Mohammad Roem dan kawan-kawan.

Konflik Indonesia Belanda menjadi isu internasional. Dibentuklah komisi tiga negara (KTN) dimana Indonesia menunjuk Australia sebagai penengah dan Belanda menunjuk Belgia sebagai penengah ditambah dengan Amerika Serikat sebagai ketua perunding. Diatas geladak kapal Renville yang berlabuh di Tanjung Priok 8 Desember 1947 yang disebut dengan perundingan Renville. Perundingan ini oleh pihak Indonesia dan tokoh-tokoh lainnya dianggap lemah bahkan partai Masjumi sendiri dimana Mohammad Roem sebagai tokohnya menolak isi perjanjian tersebut. Perunding Indonesia dianggap menerima tekanan-tekanan Belanda sehingga kabinet yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin terpaksa menyerahkan mandat kepada Presiden Soekarno tanggal 23 Januari 1948.

Kemudian perundingan dilanjutkan di Hotel Des Indesch di Jalan Gajah Mada, sekarang dikenal dengan Perkantoran Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat 7 Mei 1949 yang disebut dengan perundingan Roem Royen. Perundingan ini merupakan karya puncak Mohammad Roem didalam diplomasi. Dokumen Roem Royen merupakan dokumen bersejarah bagi kelanjutan tegaknya Negara Republik Indonesia. Dokumen ini merupakan pengakuan Belanda terhadap eksistensi NKRI, sehingga Belanda menghentikan aksi militernya, membebaskan tahanan politik. Pada giliran berikutnya pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag tanggal 24 Juli 1949 sampai 2 November 1949 Belanda harus menyerahkan kekuasaan kepada Indonesia dan membebaskan Soekarno dan Hatta dari tahanan politik

Kembalinya Soekarno Hatta ke Yogyakarta dari pengasingan di Pulau Bangka tidak akan terjadi kalau tidak ada perjanjian Roem Royen. Dari perjanjian Roem Royen itulah muncul Konferensi Meja Bundar untuk memulihkan hak-hak kemerdekaan Republik Indonesia.

Mohammad Roem lahir didesa Klewabon Kewedanaan Parakan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah tanggal 16 Mei 1908. Ayahnya bernama Dulkarnain Djoyosasmito, seorang lurah di desa Klewabon, Ibunya bernama Siti Tarbiah. Mohammad Roem adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Orang tua beliau sekalipun tidak memiliki pendidikan agama yang kuat tetapi sangat keras terhadap anaknya, terutama dalam soal sholat.

Pendidikan agama diberikan langsung oleh seorang guru ngaji yang didatangkan kerumah. Kakak-kakak beliau yang lain bernama Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, nama khulafaur rasyidin, sementara yang perempuan bernama Muti’ah dan Siti Khadijah. Di Temanggung ia masuk HIS (Holland Inlansch School) dan selanjutnya sampai ke Stovia di Jakarta, selesai tahun 1930. Pada waktu kongres JIB I tahun 1929 di Surabaya, beliau sudah ikut terlibat dan berkenalan dengan seorang pandu wanita dari JIB yang bernama Markisah Dahlia, seorang gadis yang kemudian menjadi istrinya.

Pada tahun 1930 dilaksanakan Kongres JIB di Jakarta dimana Mohammad Roem terpilih sebagai Ketua Panitia. Disinilah beliau banyak bersentuhan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti H. Agus Salim, Mohammad Natsir, Kasman Singodimedjo, Sjafruddin Prawiranegara, dan tokoh-tokoh lainnya. Mohammad Roem wafat di Jakarta pada tanggal 24 September 1983. (Drs. H. AmlirSyaifa Yasin, MA/Sekretaris Umum Dewan Da’wah)

oOo

Sumber: http://www.dewandakwah.com/content/view/518/30/

Karier ,Jabatan dan riwayat perjuangan

Pemimpin delegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Roijen pada tahun 1949
Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)
Pemimpin delegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Royen (1949)
Menteri Luar Negeri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 – 20 Maret 1951)
Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)
Wakil Perdana Menteri I pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956)

Sumber: http://www.biografitokohdunia.com/2011/02/biografi-mohammad-roem.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: