~ H.M. Rasjidi, Ilmuwan Pejuang

Mei 3, 2012

ImageKalau kita baca sejarah tokoh-tokoh perjuangan nasional dari kalangan Islam, baik sebelum merdeka maupun sesudah merdeka, kita akan menemukan bahwa dalam pikiran mereka tidak ada dikotomi antara keislaman dan kebangsaan. Mereka adalah tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus adalah tokoh-tokoh Islam. Keikhlasan dan semangat rela berkorban untuk bangsa dan ummat terlihat sekali dalam langkah-langkah yang mereka lakukan.

Mereka adalah pejuang dan perintis yang memperoleh inspirasi dari tokoh-tokoh jauh sebelumnya seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro dan lain-lain yang semangatnya adalah bagaimana negeri ini dapat lepas dari penjajahan. Satu diantara mereka itu adalah Prof. Dr. H.M. Rasjidi yang pernah menjadi Menteri Agama pertama Republik ini dan beberapa kali menjadi Duta Besar antara lain di Kairo merangkap Arab Saudi, di Afghanistan merangkap Iran dan juga di Pakistan.

Beliau lahir di kota Gede Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 1915. Di waktu kecil nama beliau adalah Saridi, anak seorang pedagang batik dan perhiasan dari keturunan yang cukup berada. Ayah beliau bernama Atmo Sudigdo. Pendidikan beliau diawali dari sebuah sekolah dasar yang menggunakan bahasa daerah yaitu sekolah Ongkoloro. Kemudian karena melihat sekolah Muhammadiyah lebih maju dan modern yaitu sekolah Kweek School, akhirnya beliau pindah ke sekolah Muhammadiyah.

Ketika seorang ulama besar kelahiran Sudan, Ahmad Surkati, pendiri Al Irsyad mendirikan sebuah sekolah di Lawang Jawa Timur, karena sekolah tersebut mengajarkan bahasa Arab, kemudian pelajaran-pelajaran lain, akhirnya Saridi pindah di Lawang Jawa Timur. Disitu ia sudah dapat membaca kitab-kitab berbahasa Arab disamping mahir berbahas Belanda. Bahkan syair-syair yang memuat kaidah-kaidah bahasa Arab yang dikenal dengan Alfiyah Ibnu Malik yang berisi seribu bait syair dihafal oleh Saridi.

Karena Syeikh Ahmad Surkati sulit mengucapkan nama Saridi dan sering salah memanggil, akhirnya nama beliau diganti oleh Ahmad Surkati dengan Rasjidi. Dan ketika menunaikan ibadah haji untuk pertama kali, ditambahlah didepan namanya Mohammad, jadilah namanya Mohammad Rasjidi.

Selepas dari Al Irsyad Lawang, dengan seorang sahabatnya bernama Tahir Ibrahim, murid Syeikh Ibrahim Musa di Parabek Bukittinggi, beliau berangkat ke Kairo melalui pelabuhan Belawan Medan kemudian menuju Singapura dan meneruskan perjalanan hingga ke Kairo. Karena beliau anak seorang yang berada dan memiliki cita-cita tinggi memungkinkannya untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebelum masuk perguruan tinggi di Kairo, beliau harus masuk persiapan di Sekolah Tinggi Daarul Ulum yang kebetulan mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Qutb. Di Kairo, disamping menekuni pelajaran, Rasjidi juga aktif berorganisasi hingga menjadi Ketua Persatuan Pemuda Indonesia Malaya. Rasjidi dan kawan-kawan juga terpengaruh dengan pergolakan yang terjadi di dunia Islam yang pada saat itu juga menggeliat ingin menjadi negara merdeka, bebas dari penjajahan asing.

Disamping itu Rasjidi juga mendalami bahasa Inggris, Prancis dan mampu menghafal Al Qur’an hingga 30 juz. Beliau berhasil memperoleh ijasah Baccaloriac atau Sarjana Muda (BA). Pada tahun 1938 beliau pulang ke Indonesia. Belum genap satu bulan di Indonesia, beliau dinikahkan dengan Siti Sa’adah, anak seorang pengusaha di kota Gede Yogyakarta. Maklumlah, anak muda yang baru menyelesaikan pendidikannya di Kairo. Oleh mertua beliau yang pengusaha, Rasjidi diminta memimpin sebuah perusahaan namun tidak berkenan dihati beliau, karena cita-citanya menggali ilmu sebanyak mungkin.

Disaat Jepang masuk tahun 1942, beliau diangkat untuk menjadi kepala perpustakaan didaerah Tanah Abang Jakarta, disamping itu beliau penyiar bahasa asing di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Beliaulah yang menyiarkan berita-berita pergerakan Islam keluar negeri baik dalam bahasa arab maupun bahasa inggris.

Ketika Bung Hatta mendirikan Sekolah Tinggi Islam bersama Mohammad Natsir sebagai Sekretaris, Rasjidi yang alumni Kairo tersebut diangkat sebagai Sekretaris Senat Guru Besar. Dan ketika Indonesia diproklamirkan oleh Soekaro Hatta, Rasjidilah yang menyalin teks proklamasi tersebut kedalam bahasa arab lalu disiarkan melalui RRI keberbagai negara di luar negeri, khususnya negara-negara Arab.

 

Duduk di kabinet diawal Revolusi

Dalam kabinet Sjahrir yang dibentuk 14 November 1945, Rasjidi diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Islam yang dua bulan kemudian diubah menjadi Departemen Agama, yaitu pada tanggal 3 Januari 1946 dan RI resmi memiliki Departemen Agama. Ketika ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta, Departemen Agama sudah memiliki kantor sendiri yang tidak jauh dari rumah mertua Rasjidi. Dengan bersepeda beliau sebagai Menteri Agama berangkat dari rumah mertuanya yang jaraknya sekitar 12 kilometer.

Prihatin melihat seorang menteri bersepeda menuju kantor, seorang pengusaha yang memiliki sebuah mobil yang sudah lama tidak dipakai lalu memberikan mobil tersebut kepada Rasjidi. Mobil tersebut diserahkan dalam keadaan rusak, kemudian diperbaiki dan diberikan juga seorang supir untuk mengantar Rasjidi.

Pada 13 Maret 1947, Mohammad Abdul Moenem, Konsul Jendral Mesir yang ada di Bombay India, menerobos blokade Belanda dan mendarat di Bandara Maguwo Yogyakarta. Ia ingin menemui pemerintah Indonesia sebagai utusan Liga Arab yang berkedudukan di Kairo.

 

Ketika itu pemerintah yang berada di Yogyakarta kebingungan, siapa yang dapat melayani tamu dari Liga Arab ini, maka Rasjidi lah yang ditunjuk. Tercatat dalam sejarah bahwa Abdul Moenem ini adalah delegasi pertama negara asing yang dapat menerobos blokade Belanda di Indonesia.

Setelah Abdul Moenem kembali ke Kairo, Liga Arab mengundang delegasi Indonesia yang dipimpin oleh H. Agus Salim dan Rasjidi salah satu anggotanya. Dalam sidang Liga Arab yang berlangsung di Kairo tersebut, delegasi Indonesia menyampaikan pidatonya serta meminta dukungan negara-negara Arab. Karena Indonesia dalam keadaan sulit, maka seluruh biaya perjalanan ke sidang tersebut ditanggung Liga Arab.

Kemudian Rasjidi ditunjuk menjadi kepala perwakilan Republik Indonesia di Kairo. Pada 10 Juni 1947 ditandatanganilah perjanjian persahabatan Indonesia dan Mesir. Rasjidi diminta untuk tinggal di Kairo, sementara Agus Salim dan kawan-kawan melanjutkan diplomasi ke Syiria, Jordania, Lebanon dan Irak mencari dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Delegasi mendapat sambutan hangat dari negara-negara Islam serta memberikan fasilitas dan dukungan.

Rasjidi merangkap perwakilan RI di Arab Saudi. Tugas pertama yang harus disukseskan oleh Rasjidi adalah bagaimana menerima tiga ribu jamaah haji Indonesia yang akan beribadah yang selama ini dilakukan oleh Kedutaan Besar Belanda di Jeddah. Pada saat itu Saudi Arabia dipimpin oleh Raja Ibnu Saud dengan Putra Mahkota Pangeran Faisal. Jamaah haji Indonesia mendapat fasilitas dan dukungan termasuk dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Bahkan di Padang Arafah disampaikan ucapan selamat atas Indonesia yang baru saja merdeka.

Ketika Agresi Militer kedua Belanda di Yogyakarta, Soekarno dan Hatta ditawan sementara koran-koran di Mesir memuat foto Soekarno dan Hatta dinaikkan keatas mobil Jeep, Rasjidi menyadari bahwa RI dalam keadaan bahaya, namun simpati rakyat Mesir sungguh luar biasa, bahkan setiap bertemu dengan Rasjidi mereka mengucapkan “maalish….maalish”, yang artinya tidak apa-apa saudaraku dan sabarlah. Sementara negara-negara Arab mengutuk pemerintahan Belanda yang menawan tokoh-tokoh Indonesia pada agresi militer tersebut.

Setelah Konferensi Meja Bundar di Deen Hag, Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia, Rasjidi mengambil alih kedutaan besar Belanda di Jeddah dan Konsulatnya di Mekkah. Setelah itu Rasjidi dikukuhkan sebagai Duta Besar di Mesir sekaligus merangkap di Arab Saudi. Kemudian beliau dipindah ke Teheran merangkap Afghanistan. Sebelas bulan di Iran, Rasjidi ditarik ke Jakarta menjadi Direktur Jendral Penerangan Departemen Luar Negeri.

Karena pekerjaan di Departemen Luar Negeri pada masa itu belum begitu banyak, sementara cita-cita lama yang terpendam didalam sanubari Rasjidi yaitu bagaimana bisa melanjutkan kuliah di sebuah Universitas terkenal di Eropa yaitu di Sorbonne Prancis. Beliau ingin merealisasikannya.

Ketika beliau sedang duduk termenung didepan kontrakan rumahnya di Jakarta, tiba-tiba seseorang datang sambil bertanya : “anda ingin mendapat bea siswa?”, Rasjidi kaget sambil berkata : “anda siapa dan tahu dari mana kalau saya sedang memikirkan perkuliahan itu?”, ternyata yang datang tersebut adalah seseorang dari Rockeveller Foundation, yang menawarkan bea siswa untuk kuliah di Sorbonne dan beliaupun menerimanya. Singkat cerita beliau berhasil meraih gelar Doktor dengan nilai Cum Laude. Sementara itu di Jakarta terjadi perubahan pemerintahan dengan Burhanuddin Harahap menjadi Perdana Menteri dan beliau yang baru kembali dari Sorbonne diminta untuk menjadi Duta Besar di Pakistan.

Sewaktu terjadi PRRI/PERMESTA, Rasjidi yang menjadi Dubes di Pakistan diminta bergabung kepada PRRI/PERMESTA. Sementara dilain pihak, ada kelompok yang meminta beliau loyal kepada Soekarno.

Melihat suasana pemerintah di Jakarta dalam keadaan bergolak, sementara itu datang tawaran dari Mc Gill University di Montreal Kanada yang juga pada saat yang sama perwakilan RI di PBB Mr. Soedjarwo Tjondronegoro singgah di Pakistan, maka disampaikanlah keinginan Rasjidi untuk mengajar di Mc Gill University dan beliau meminta cuti selama lima tahun di luar tanggungan negara. Sewaktu di Mc Gill University inilah beliau melakukan kontak-kontak yang sangat luas dan membuka peluang untuk putra-putra Indonesia agar dapat belajar di kampus terkenal tersebut antara lain Harun Nasution, Mukti Ali, Nurcholis Madjid dan lain-lain. Setelah itu beliau pun diminta oleh Duta Besar Aghanistan di Amerika Serikat untuk menjadi direktur Islamic Center Washington DC. Namun karena perbedaan pendapat dengan kolega-kolega beliau dari Mesir yang sebelumnya memimpin Islamic Center ini, dan kebetulan beliau pulang ke Jakarta karena putrinya mengalami kecelakaan, beliau disingkirkan dari Islamic Center tersebut.

Ketika terjadi pemberontakan G30S/PKI, Rasjidi sedang berada di Mekkah, sekembali dari Konferensi International of Religion di Los Angeles. Beliau singgah di Mekkah dan bertemu dengan Pangeran Faisal yang sudah menjadi Raja lalu ditawari untuk menjadi staff Rabithah Alam Islami di Mekkah, kemudian menjadi Ketua Rabithah Alam Islami maktab Jakarta. Beliau sekaligus ditawari menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Banyak karya-karya tulis beliau maupun terjemahan dari bahasa asing seperti Humanisme Dalam Islam, Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Janji-Janji Islam dan lain-lain.

 

Membicarakan Rasjidi tidak mungkin tanpa dikaitkan dengan kebangkitan intelektual Islam di Indonesia. Beliau sangat kritis dan polemis jika melihat pemikiran-pemikiran yang menurut beliau sudah menyimpang dari ajaran Islam dan berbahaya bagi generasi yang akan datang. Karena sebagai rasa tanggung jawab beliau sebagai seorang intelektual, tidak segan-segan untuk mengkritisi Harun Nasution dengan bukunya “Islam ditinjau dari berbagai aspek” dan Nurkholis Madjid dengan faham sekulerisme, sekalipun beliau yang membuka jalan bagi mereka.

Bicara tentang Rasjidi, maka akan diingat tiga hal, pertama peranan beliau sebagai seorang pejuang bagi adanya pengakuan kedaulatan Indonesia merdeka dari negara-negara Islam. Kedua beliau adalah Menteri Agama RI yang pertama. Ketiga, pengembaraan intelektual beliau di negara-negara barat dan Islam tidak melunturkan identitas beliau sebagai sarjana muslim yang pernah kuliah di Kairo, tetapi juga mendapat gelar Doktor di Sorbonne Prancis. Belajar Islam di barat, bukan mempelajari Islam sebagai sikap hidup, melainkan hanya dari segi keilmuan bagaimana barat mempelajari Islam dan cara mereka memandang Islam sehingga dapat dikritisi. H.M. Rasjidi wafat tanggal 30 Januari 2001. (Drs. H. Amlir Syaifa Yasin, MA/Sekretaris Umum Dewan Da’wah)

 

Ooo

source: http://www.dewandakwah.com/content/view/529/1/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: