DASAR NEGARA dan Pengkhianatan >> waiman cakrabuana

Agustus 24, 2012

ImagePada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI telah berhasil merumuskan “konsensus nasional” antara kaum nasionalis sekuler dan nasionalis Islami dengan lahirnya PIAGAM JAKARTA.

KH Firdaus AN mencatat penilaian pakar pakar keindonesiaan mengenai PIAGAM JAKARTA:

Namun tak dapat disangkal bahwa Piagam Jakarta itulah bentuk kompromi maksimum yang dapat dicapai oleh kedua kubu yang bertarung sengit itu.

Prof. Dr. Supomo mengatakan bahwa Piagam Jakarta itu merupakan “Perjanjian Luhur”, sedang Dr. Sukiman menyebutnya dengan “Gentlemen Agreement”; Mr. Muhammad Yamin menamakannya dengan “Jakarta Charter”, dan Prof. Dr. Drs. Notonagoro S.H. menjuluki Piagam Jakarta sebagai “suatu perjanjian moril yang sangat luhur. “Pendekriya suatu perjanjian bersama yang sangat agung yang diwujudkan di saat-saat yang genting dan menentukan bagi nasib bangsa Indonesia. (Baca: Prof. Dr. Drs. Notonagoro S.H., Pancasila Secara Ilmiah Populer, hal. 69 Cetakan Ketiga, Pancuran Tujuh, Jakarta, 1975).[1]

Berdasar Rumusan Piagam Jakarta  22 juni 1945, itu maka INDONESIA berdasar [2]:

1-      Ketuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk pemeluknya

2-      Kemanusiaan yang adil dan beradab

3-      Persatuan Indonesia

4-      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan

5-      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Ooo

“Piagam Jakarta” yang disepakati secara paten oleh bapak bapak pendiri bangsa  (the founding Fathers) ini ternyata tidak berumur panjang. Kurang dari 2 bulan telah terjadi pengkhianatan kaum kaum nasionalis sekuler terhadap umat Islam.

18 Agustus 1945, satu hari setelah proklamasi, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dipimpin Soekarno bersidang.

Peristiwa menyakitkan umat Islam, dalam sidang PPKI itu,  adalah PENCORETAN TUJUH KATA DALAM PIAGAM JAKARTA.

Tujuh kata yang dicoret adalah “DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARI’AT ISLAM BAGI PEMELUK PEMELUKNYA”,  dan diganti dengan “YANG MAHA ESA”, kemudian dijadikan sila pertama dalam dasar negara Republik Indonesia.

Sila pertama yang asalnya KETUHANAN dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, berubah menjadi KETUHANAN yang Maha Esa.

Betapa alerginya kaum nasionalis sekuler terhadap Syari’at Islam.

Bagi Prawoto Mangkusasmito peristiwa pencoretan tujuh kata Piagam Jakarta itu sebagai “Historische vraag” satu “pertanyaan Sejarah”. KH Isa Anshari menyebut peristiwa itu sebagai “Permainan sulap”, “pat gulipat”  .[3]

Catatan historis yang mencoret merah kaum Nasionalis di gelanggang politik nasional, sekaligus tragedi yang mengenaskan bagi umat Islam yang sejak awal bangkit melawan penjajah ini, harus terjatuh dalam kubangan kelicikan kaum nasionalis sekuler.

Ilılllılı

Pencabutan 7 kata piagam Jakarta itu dilakukan oleh sidang PPKI atas usulan M Hatta.

Latar belakang M Hatta mengajukan usulan pencoretan 7 kata itu adalah (dituturkan Hatta didalam bukunya, “Seputar Proklamasi”)  karena:

“Pada petang hari 17 Agustus 1945 itu, seorang opsir Kaigun (angkatan laut Jepang) datang kepada Hatta, dan mengatakan bahwa wakil wakil Protestan dan Katolik dalam kawasan Kaigun berkeberatan sangat atas anak kalimatdalam pembukaan UUD yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk pemeluknya”. Walaupun mereka mengakui bahwa anak kalimat itu tidak mengikat mereka, dan hanya mengikat rakyat yang beragama Islam. Namun mereka memandang sebagai diskriminasi terhadap mereka golongan minoritas. Hatta menjawab kepada opsir itu (yang namanya tidak diingatnya), bahwa hal tersebut bukanlah diskriminasi, karena penetapan tersebut hanya mengikat rakyat yang beragama Islam. Ketika pembukaan UUD itu dirumuskan, Mr Maramis – seorang Kristen- yang menjadi salah seorang anggota panitia sembilan, tidak berkeberatan apa apa pada tanggal 22 Juni 1945 turut membubuhkan tanda tangannya. Opsir itu menjawab, bahwa pada waktu itu mungkin Mr Maramis tidak merasakan bahwa penetapan itu suatu diskriminasi. Kalau pembukaan diteruskan juga apa adanya, maka golongan protestan dan katolik lebih suka berdiri diluar Republik.”[4]

Penuturan latar belakang tersebut perlu di kritisi secara cerdas:

PERTAMA: Siapa Opsir Kaigun itu?. Mengapa Hatta lupa namanya, sehingga sulit dikonfrontir pada opsir Kaigun tersebut, apa benar opsir Kaigun itu berkata demikian?. Mengapa untuk hal yang sangat penting itu M Hatta lupa namanya?

KEDUA; Menurut penuturan M Hatta, bahwa opsir kaigun tersebut membawa aspirasi dari katolik dan protestan dari daerah Timur Indonesia. Perlu dikritisi karena pertemuan singkat dengan opsir itu terjadi pada Petang Hari 17 Agustus 1945.

Bagaimana tersiarnya proklamasi itu keseluruh penjuru tanah air , hingga Indonesia Timur,  sehingga pata petang harinya sudah ada reaksi dari Katolik dan Protestan dari Timur Indonesia?.

Padahal di jl Pegangsaan, Proklamasi dikumandangkan dihadapan 26 0rang[5] saja. Proklamasi disiarkan melalui famplet yang dicetak dan ditempel ditempat tempat keramaian[6] , tentu ini butuh waktu panjang dari mencetak , menempel hingga menjangkau Indonesia Timur dan akhirnya dibaca hingga menimbulkan reaksi dan kemudian disalurkan melaui opsir kaigun Jepang.

Anehnya!!!!, Petang hari 17 Agustus 1945, hanya beberapa jam saja, opsir Kaigun sudah dapat menyampaikan aspirasi dari Katolik dan Protestan Indonesia Timur.

Satu satunya cara tersiar yang mungkin bisa menjangkau sampai Indonesia Timur adalah dengan siaran radio. Hal inipun tidak mudah sebab tentara Jepang masih ketat menjaga kantor kantor penyiaran sehingga baru petang hari jam 16.00, proklamasi disiarkan melalui radio, dalam versi lain baru disiarkan pada jam 18.30[7] .

Sungguh sangat sulit dimengerti jika Petang hari Opsir kaigun Jepang itu sudah membawa aspirasi dari Timur Indonesia.

KETIGA; Siapa wakil wakil Katolik dan protestan yang merasa keberatan ?. Mengapa M Hatta, lagi lagi, tidak teliti, sebab bisa jadi itu hanya tipuan opsir kaigun?.

Ilılllılı

Siapa yang mengeluarkan ultimatum akan “berdiri diluar Republik” , jika 7 kata yang mengandung syari’at  islam itu tidak dicoret dalam DASAR NEGARA dan KONSTITUSI NEGARA.

Sungguh menjadi sebuah teka-teki yang sulit ditebak. Sebab tidak ada satu bukupun termasuk yang disusun oleh M Hatta, yang membuka jati diri si peng-ultimatum itu.

Belakangan, menurut KH Firdaus AN,  diketahui bahwa tokoh misterius itu adalah Dr Sam Ratulangi, seorang politisi Kristen yang licik dari Manado. Pernyataan KH Firdaus AN didasarkan pada sebuah buku tentang Indonesia yang diterbitkan oleh Cornell University  di Amerika Serikat pada tahun 1984. Dalam buku tersebut hal.7, Dr Sam Ratulangi disebut an asture Christian Politician From Manado, North Sulawesi (seorang politisi Kristen yang licik dari Manado, Sulawesi Utara). Dan selaku orang yang dekat dengan perwira Jepang, maka ia demikian pandainya mempergunakan kesempatan itu dengan “baik” untuk kepentingan politiknya[8].

Ilılllılı

Setelah BPUPKI dibubarkan dibentuklah PPKI yang bertugas untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta mengesahkan Dasar Negara dan UUD yang sudah rampung disusun dalam BPUPKI.

PPKI bersidang pada tanggal 18 Agustus 1945 jam 09.30, tetapi realitasnya (molor waktu), terjadi pada jam 11.30.

Mengapa molor hingga baru dimulai jam 11.30?.

Adakah sesuatu yang terjadi antara pukul 09.30 sampai 11.30., yang berpengaruh langsung terhadap penghapusan gentelment agreement anatar kaum kebangsaan dengan kalangan Islam itu?. Semuanya serba gelap, sebab notulen persidangan PPKI sama sekali tidak mencatat peristiwa tersebut[9].

DR Anwar Harjono menulis versi cerita yang tidak resmi… Bahwa direntang waktu tersebut, M Hatta meloby Ki Bagoes Hadikoesoemo, KH Wahid hasjim, Mr Kasman Singodimejo dan Teuku M hassan… Loby dilakukan kepada mereka agar dalam sidang PPKI beberapa jam kemudian usulan pencoretan 7 kata yang mengandung Syari’at Islam itu berlangsung lancar. [10]

Mr Moh Roem juga menulis (dalam kata pengantar buku “Piagam Jakarta” karya HE Saefudin Anshari), bahwa sebelum sidang resmi PPKI diadakan rapat pendahuluan sebagai rapat lobying untuk mencabut 7 kata dengan keempat tokoh Gerpolis (nasionalis Islami) tersebut. [11]

Dalam kenyataannya ternyata , menurut Prawoto Mangkoesasmito;  KH Wahid Hasjim tidak hadir karena ia sedang melakukan perjalanan ke Jawa Timur, kemudian Mr Kasman Singodimejo baru menerima undangan pada pagi itu dan  tidak menguasai materi. Adapun Teuku Muhammad Hassan pasti setuju karena ia adalah wakil dari kalangan nasionalis sekuler. Satu satunya tekanan psicologis tentang hasil atau tidaknya penentuan UUD diletakan diatas Ki Bagus Hadikusumo sebagai satu satunya eksponen perjuangan Islam pada saat itu .[12]

Upaya Bung Hatta yang sangat keras dan serius , UNTUK MENCORET SYARI’AT ISLAM DARI DASAR NEGARA, tersebut ternyata berhasil.

Ketika sidang resmi PPKI hanya dalam 15 menit, “7 kata” dalam Piagam Jakarta yang mengandung Syari’at Islam itu, dicoret dengan mulus dan dibarengi tepuk tangan dan riuh peserta yang bergembira setuju.

Kasman Singodimejo dan Ki Bagoeshadikoesoema keduanya bukanlah penandatangan PIAGAM JAKARTA sehingga tidak menguasai materi bahasan. Dapatlah dimengerti keduanya dari wakil Islam yang akhirnya ditipu mentah mentah oleh kalangan nasionalis sekuler.

Ilılllılı

Hal lain yang perlu diperhatikan, dari anggota PPKI adalah hanya dua orang wakil Islam, ini berarti komposisinya tidak berimbang dan tidak mewakili komposisi rakyat Indonesia. Dua orang dari 27 anggota PPKI adalah 12 %.

Walhasil, sejak 18 Agustus 1945, sehari pasca proklamasi, Syari’at Islam hilang dari DASAR NEGARA dan KONSTITUSI NEGARA.

Tragis….

KAUM nasionalis Islami) dikhianati, ditipu dan diliciki nasionalis sekuler dua kali dalam WAKTU dua hari.

Satu;

Pengkhianatan Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dengan membuang teks resmi proklamasi yaitu PIAGAM JAKARTA yang ditandatangani 9 tokoh dari kalangan GERPOLIS (nasionalis Islami) parlementer dan GERPOLNAS (nasionalis sekuler)

Dua;

Pengkhianatan atas DASAR NEGARA, dengan dicoretnya 7 kata yang mengandung syari’at Islam pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang singkat 15 menit.

M. Hatta, mewakili kalangan kaum nasionalis sekuler,  dengan bangga mengatakan: “Inilah perubahan yang mahapenting menyatukan segala bangsa”  [13]

IIIIIiii

Sementara itu dari kalangan Nasionalis islami , nampak kekecewaan yang mendalam.

Prawoto Mangkoesasmito (Pimpinan partai Islam terbesar saat itu “Masyumi”),  bertanya tanya:

Apa sebab rumus “Piagam Jakarta”, yang diperdapat dengan susah payah, dengan memeras otak dan tenaga berhari hari oleh tokoh tokoh terkemuka dari Bangsa Kita, kemudian didalam rapat PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 DIDALAM BEBERAPA MENIT SAJA dapat diubah?. Apa, apa, apa sebabnya?

Tidak dapat dihindarkan pertanyaan: “kekuatan apakah yang mendorong dari belakang, hingga perubahan itu bisa terjadi?”. Penulis tidak tahu, apakah pertanyaan ini dapat dijawab dengan jujur dan tepat. Apakah sebabnya Ir Soekarno, yang selama sidang sidang BPUPKI dengan mati matian mempertahankan “Piagam Jakarta”. Kemudian justru mempelopori usaha untuk mengubahnya? Penulis tidak tahu?

Memang konsensus bersama antara Nasionalis Islami dan nasionalis sekuler yang menghasilkan Piagam Jakarta, dilakukan berhari hari dalam sidang BPUPKI dan panitia sembilannya, yang menurut Soekarno sendiri memeras tenaga, keringat dan cucuran airmata,  harus dimentahkan dalam sidang kilat PPKI dalam waktu 15 menit. Memang aneh bin ajaib.

Tokoh Masjumi lainya seperti KH Isa Anshari menyebut keputusan sidang kilat PPKI itu adalah permainan sulap alias pat gulipat.

Salah seorang wakil GERPOLIS Parlementer, yaitu Prof Abdoel Kahar Moedzakir mengatakan dengan kasar: “Apa lacur tanggal 18 Agustus 1945?”[14]


[1]  KH Firdaus AN, “Dosa dosa Politik, Orde lama dan Orde Baru yang tidak boleh berulang lagi pada Orde Reformasi”, Pustaka Al Kautsar – Jakarta Timur,  cetakan kedua , juni th 1999, hal 70

[2] H. E Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan sejarah konsensus nasional antara nasionalis islami dan nasionalis sekuler tentang dasar negara Republik Indonesia 1945-1959”, Pustaka Salman ITB – Bandung , cetakan pertama 1981…, hal 166

[3] HE Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta”…, hal 44

[4] HE Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta”…, hal 45-46

[5] Arifin suryo Nugroho & Ipong Jazimah…., hal133-134

[6] Arifin suryo Nugroho & Ipong Jazimah…., hal133-134

[7] Arifin suryo Nugroho & Ipong Jazimah…., hal133-134

[8] Lihat, KH Firdaus AN…., hal 72

[9] DR Anwar Harjino … hal. 48

[10] DR Anwar Harjino … hal. 48

[11] HE Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta”…, hal xiii

[12] HE Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta”…, hal 48

[13] HE Saefudin Anshari, “Piagam Jakarta”…, hal 43

[14]  KH Firdaus AN hal. 75

—————————————

wassalaam

waiman cakrabuana

 

admin army ants community

Tulisan Terkait:

1- PROKLAMASI & Pengkhianatan  >> waiman cakrabuana

2- DASAR NEGARA & Pengkhianatan >> waiman cakrabuana

3. PELOPOR KEMERDEKAAN >> waiman cakrabuana

3 Tanggapan to “DASAR NEGARA dan Pengkhianatan >> waiman cakrabuana”


  1. […] DASAR NEGARA dan Pengkhianatan >> waiman cakrabuana […]


  2. […] DASAR NEGARA dan Pengkhianatan >> waiman cakrabuana […]


  3. […] DASAR NEGARA dan Pengkhianatan >> waiman cakrabuana […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: