Fadli Zon: ‘Kartosoewirjo Adalah Seorang Pejuang’

September 17, 2012

Fadli Zon, politikus sekaligus sejarawan penulis buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ mengatakan bahwa Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang pejuang (Arab: Mujahid_red).

“Kartosoewirjo itu seorang pejuang. Kita harus mendudukkan sejarah secara proporsional. Meski Kartosoewirjo mempunyai kelemahan dan kelebihan, tapi dia adalah pejuang,” demikian menurut Fadli Zon dalam peluncuran bukunya Rabu (5/9) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Seperti diceritakan dalam buku-buku sejarah di bangku sekolah selama ini, Kartosoewirjo merupakan pimpinan gerakan DI/TII yang selalu dianggap sebagai seorang pemberontak NKRI.

Buku-buku sejarah SD pada tahun 80-an banyak menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan seorang penjahat kemerdekaan.

Pada 7 Agustus 1949, Imam Kartosoewirjo memang memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya. Dengan militansi yang dimilikinya, Kartosoewirjo melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

“Bung Tomo, bapak pahlawan perjuangan Surabaya pada 10 Nopember dan mantan menteri dalam negeri kabinet Burhanuddin Harahap. Dalam sebuah buku kecil berjudul “Himbauan” yang ditulis Bung Tomo pada tanggal 7 September 1977, mengatakan bahwa Kartosoewirjo telah mendapat restu dari Panglima Besar Jendral Sudirman,” tulis seorang penulis buku.

Sebelum memproklamirkan NII, Imam Kartosoewirjo adalah orang penting dalam kementerian pertahanan RI yang pernah ditawari menjadi menteri muda pertahanan RI, tetapi ia tolak. Jabatan menteri muda pertahanan tersebut kemudian diduduki oleh sahabat beliau sendiri yaitu Arudji Kartawinata.

Imam DI/TII yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia itu pada akhirnya dieksekusi regu tembak dari TNI pada 12 September 1962 di Pulau Ubi kepulauan Seribu.

Soekarno menjatuhkan hukuman mati pada Kartosoewirjo. Sebenarnya, Kartosoewirjo adalah sahabat karibnya. Dulu Soekarno, Muso (Tokoh PKI) dan Kartosoewirjo sama-sama ngekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya.

Tapi ketiganya akhirnya memilih ideologi dan jalan yang berbeda. Soekarno menjadi nasionalis, Muso menjadi komunis, sedangkan Kartosuwiryo menjadi Islamis. Nasib Imam Kartosoewirjo pun berakhir diterjang timah panas regu tembak tentara Soekarno, mantan sahabatnya sendiri.

Konon, sebelum Bung Karno bersedia menandatangani vonis mati itu, sang proklamator berkali-kali menyingkirkan berkas eksekusi mati Imam Kartosoewirjo dari meja kerjanya. Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, Bung Karno dan Imam Kartosoewirjo adalah dua orang karib. Keduanya berguru pada orang yang sama yakni HOS Tjokroaminoto. Saat itu keduanya tinggal di sebuah rumah kontrakan milik tokoh Sarekat Islam itu.

“Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,” kata Soekarno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ Karya Cindy Adams, Terbitan Media Pressido. [***

SUMBER :

http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/fadli-zon-kartosoewirjo-adalah-seorang-pejuang.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: