Qurban; yang diterima dan yang ditolak >> waiman cakrabuana

Oktober 3, 2012

Bismillahirrahmanirrahim

Refleksi Historis; Qurban Zaman Nabi Adam

Kebiasaan ber-Qurban adalah kebiasaan manusia yang sudah sangat tua. Dalam Al-Qur’an, sudah dikisahkan tradisi ber-Qurban ini sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS (QS 5/27). Hingga kini, Tradisi Qurban terus melestari.

Jika dilihat dari motifasi , salurannya, dan caranya; maka tradisi Qurban ini terbagi kepada dua:

1~ Qurban Maqbul (Qurban yang diterima Allah)
2~ Qurban Mardud (Qurban yang ditolak Allah)

Tidak setiap yang berqurban akan diterima oleh Allah Ta’ala, sebab jika ada ke-bathilan (kesalahan) dalam ber-Qurban maka; Qurban tersebut tidak akan diterima. Sebagaimana Qurban-nya salah satu putera nabi Adam.

واتل عليهم نبأ ابني آدم بالحق إذ قربا قربانا فتقبل من أحدهما ولم يتقبل من الآخر قال لأقتلنك قال إنما يتقبل الله من المتقين
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah (5) ayat 27)

Pada zaman Nabiyullah Adam, Qabil dan Habil (kedua putera N. Adam) berQurban, tetapi Allah Ta’ala hanya menerima Qurban salah seorang diantara mereka (Qurban-nya Habil), dan menolak Qurban dari yang lainnya (Qurban-nya Qabil). Mengapa demikian?

Sebab pertama; Qabil ber-Qurban dengan motif ingin meraih hati Ayahnya dan menyingkirkan Habil di hati ayahnya . Sangat jelas terlihat dalam QS 5/27 tersebut ada kalimat ancaman dari Qabil kepada Habil: “Aku pasti membunuhmu!”

Motif Qabil ber-Qurban adalah Li Abi (agar dihargai dan dipuji ayahnya), sementara Habil adalah Lillah (karena Allah Ta’ala).

Sebab kedua: Saluran Qurban-nya Qabil adalah agar memenangkan persaingan menikahi Iklima (saudara kembarnya sendiri). Sementara saluran Qurban-nya Habil adalah semata dalam rangka MEN-TAATI AllAH TA’ALA.

Sebab ketiga; Qabil sebagai petani berqurban- menurut caranya sendiri, sehingga , saat itu, ia memilih untuk qurban-nya adalah hasil pertanian yang jelek jelek. Sementara Habil ber-Qurban sesuai dengan cara yang ditantukan Allah (sesuai syari’at = syar’ie), saat itu habil sebagai peternak ia meng-Qurban-kan dengan memilih hewan yang gemuk, mulus, sehat dan bersih.

Hanya satu kata

Ketiga syarat Qurban diterima adalah:

1~ Motifasi; Lillah (karena Allah)
2~ Saluran; Litha’atillah (Dalam rangka mentaati Allah)
3~ Cara; Lisyari’atillah (Sesuai syariat / aturan Allah)

Ketiga syarat tersebut ( Lillah, Litho’atillah, Lisyari’atillah), dapat di satukan dalam satu kata, yaitu ; TAQWA. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah (5) ayat 27)

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Allah ta’ala berfirman: “Daging-daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi yang sampai kepada-Nya ialah ketaqwaan kamu.” [Al-Hajj: 37]

oOo

semoga bermanfaat

waiman cakrabuana

Satu Tanggapan to “Qurban; yang diterima dan yang ditolak >> waiman cakrabuana”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: